Pendidikan di tahun-tahun 2013 hingga tahun 2015 ini sedang dielu-elukan tentang pendidikan karakter. Kenapa ? Katanya nih para empunya yang ngerti pendidikan bahwa Indonesia di ambang kehancuran. Bagaimana tidak, hampir sulit menemukan profesi yang selamat dari kebobrokan karakter. Lebih-lebih lagi mulai era reformasi 2008 sampai saat ini yang seharusnya ada reformasi birokrasi, reformasi pemerintahan, ternyata bukan hasil yang diharapkan tapi kemunduran yang terjadi. Korupsi makin meraja lela, dari bawah hingga dari atas. Dari pemangku jabatan kecil hingga pemangku jabatan besar. Banyak orang yang mengatakan "KORUPSI itu sudah MENGAKAR DAGING" jadi mustahil untuk dihilangkan.
Melalui pendidikan yang notabene adalah garda depan perubahan maka diterapkannya istilah Pendidikan Karakter. Hingga hari ini tercatat, pendidikan karakter belum kunjung berhasil. Mungkin di salah satu tempat ada yang mampu mengejawantahkan Pendidikan Karakter dalam sekolahan. Tetapi banyak juga yang belum bisa mengejawantahkan pendidikan karakter di dalam sekolah. Tinggal pemerintah harus mampu mengevaluasi seberapa banyak sekolah yang telah mampu mengejawantahkan tentang pendidikan karakter ini.
Dalam menerapkan sebuah kebijakan, seharusnya memiliki prinsip perencanaan yang matang, penyampaian konsep yang jelas, hingga contoh implementasi yang berhasil, bahkan taktik dan strategi bisa disampaikan sebagai bahan pertimbangan dari keberhasilan. Tetapi inti dari sebuah penerapan adalah usaha keras untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan karakter. Bukan retorika, bukan teori kebaikan.
No comments:
Post a Comment